Sabtu, 24 Oktober 2015

Hal-hal Yang Dapat Menghalangi Bacaan  Al Qur'an Ketika Ruqyah

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 

Ada beberapa hal yang menghalangi pengaruh bacaan Al Qur'an sehingga tidak akan berfungsi menyembuhkan ketika pelaksanaan ruqyah. Karena ada semacam hijab dalam diri kita. Sehingga tidak ada efeknya meski kita melakukan ruqyah.

 (وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا) 
 (Al-'Isrā':45) "Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup."

PERBUATAN SYIRIK
Menyekutukan Allah, Mencintai Allah tapi juga mencintai makhluk lain dan menyamakannya dengan Allah.

Syirik merupakan dosa yang paling besar sesuai sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم
"Dari Abdullah ia berkata : "Saya telah berkata kepada Rasulullah tentang dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Beliau menjawab. "Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu..." (HR.Bukhari dan Muslim )

Syirik terbagi menjadi 2 :

 1. Syirkul Akbar atau Syirik Besar
Memalingkan seluruh Ibadah untuk selain Allah atau berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan pantas disembah selain Allah.
 2. Syirkul Ashgar atau Syirik Kecil
Syirik kecil ini adalah Riya' dan pamer (ingin selalu dilihat manusia bahwa dia selalu melakukan pekerjaan baik).

Dimana syirik besar dapat dikelompokkan menjadi :
1. Syirkul Mahabbah = mencintai makhluk ciptaan Allah.
2. Sangat mencintai pasangan atau hewan-hewan kesayangan tertentu.
3. Syirkul Khauf = takut kepada selain Allah.
4. Takut hantu, syaitan, jin, binatang-binatang tertentu.
5. Syirki Tho'ah = lebih taat kepada selain Allah. Takut atasan sehingga lalai mengerjakan ibadah dan lain-lain.
6. Syirki du'a = melakukan ritual-ritual doa, ritual-ritual bid'ah.
7. Syirik dalam Motivasi, Niat dan Tujuan.
8. Syirik Tawakkal
Pelaku jenis syirik ini meyakini bahwa ada makhluk yang dapat memberi manfaat, mendatangkan rejeki, jodoh, menolak bala' dan mudharat selain Allah azza wa jalla.

RITUAL BID'AH
Sesuatu Bid'ah akan mengotori kelurusan aqidah kita. Melakukan suatu ibadah tanpa tuntunan. Na'audzubillah
Semoga kita semua terhindar dari hal-hal ini.
Perlu kita ketahui, bahkan syaitan itu ada yang ahlul bid'ah. Sehingga seseorang yang merasa diri dia ahli ibadah, dan kemudian menjalankan ibadah-ibadah yang tidak pernah dituntunkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Jadi Bid'atan ini juga benar-benar harus kita waspadai
Jangan sampai kita menjadi sesat lantaran bid'atan atau mengada-adakan sesuatu yg tidak dituntunkan Rasulullah.
Karena dasar hukum ibadah itu adalah DILARANG, kecuali yang DIPERINTAHKAN!

HASAD
Hasad disini lebih dititikberatkan kepada kedengkian terhadap kehendak Allah
Contohnya : kita iri melihat orang lain lebih bahagia lebih mulia hidupnya. Dan merasa kesal dengan apa-apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita. Merasa Allah tidaklah adil. Merasa Allah tidaklah sayang. Astaghfirullahal 'adziim.

MASIH MELAKUKAN MAKSIAT
Untuk kategori ini juga sangat banyak, dengan melanggar larangan-larangan Allah pun kita sudah bisa dikatakan maksiat kepada Allah. Misalnya memakan harta riba, durhaka terhadap orang tua, belum tegak shalatnya dan lain sebagainya.

CINTA TERHADAP DUNIA
Sebagaimana manusia itu mencintai kehidupan dunia.
Seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur'an :

 اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ؕ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطٰمًا ؕ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ؕ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." [QS. Al-Hadid: Ayat 20]

Dan hal ini juga menjadi penghalang daripada masuknya ayat-ayat Al Qur'an. Ini adalah PR kita bersama untuk selalu bermuhasabah!! Introspeksi diri. Karena tanpa introspeksi ini kita tak bisa menjadikan sebuah tolak ukur kesembuhan terapi Al Qur'an.
Waallahu a'lam.

Disusun Oleh : Team BRM - IHQ/AHQ

DIMANA MENCARI KEBAHAGIAAN SEJATI



بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 


Dalam kehidupan manusia, banyak sekali orang yang melupakan makna kebahagian hakiki.
♦  Sebagian dari mereka tak kenal lelah mencari harta sebanyak-banyaknya. Atau bekerja memburu karir, jabatan atau juga mengejar berbagai kenikmatan yang hanya bisa dinikmati sebatas hidupnya didunia, dan kebahagiaan itupun hanya akan dapat dinikmati dari sedikit waktu hidupnya.

♦  Karakteristik dasar dari kenikmatan duniawi adalah selalu melalaikan dan membuat manusia berada dalam kondisi perbudakan baik oleh jin ataupun nafsunya sendiri. Apa kira-kira yang memicu keadaan seperti ini. Tentu semua ada sebabnya bukan ?

♦  Mari sejenak kita bertafakur, berfikir dengan hati jernih dan mendalam tentang kondisi diri kita yang dari waktu ke waktu selalu menghadapi pertarungan antara beramal yang sejalan dengan petunjuk Agama ataukah yang dilarang.  Kondisi ini akan selalu datang dan memenuhi sepanjang waktu hidup kita.

💠  Beruntunglah, jika kita mampu berfikir dan menetapkan hati memiliki arah dan tujuan hidup untuk mencapai kebahagiaan kehidupan akhirat.
💠  Dengannya hati dan perilaku kita akan terus bisa kita kendalikan oleh keimanan sehingga akan senantiasa mengarah kepada  perbuatan (perilaku atau amal) yang menyebabkan turunnya rahmat Allah Subhanahu Wata'alaa.

Dan disinilah sesungguhnya kita akan menemukan kebahagiaan sejati itu. Yakni saat diri kita puas dan merasa bahagia ketika telah melakukan suatu perbuatan yang diridhoi Allah. Apapun bentuk perbuatan itu, yang jelas kita mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang akan menghasilkan buah yang baik yakni pahala dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'alaa. Dan akan merasa gelisah apabila tidak dapat melakukan sebuah amal sholih atau perbuatan baik yang menjadi kesempatannya namun terlewatkan.

💠  Adapun bagi seseorang hatinya buta, tidak dapat melihat kebenaran dan cahaya hidayah maka dirinya, dalam kesehariannya tidak memiliki kepedulian dengan urusan keadaan amalnya. Baginya tidak melakukan amal baik tak menyesal, dan melakukan maksiatpun tak merasa bersalah.

💠  Hati yang seperti inilah yang dikatakan lalai, dan berpotensi menjadi obyek perbudakan jin dan syetan.  Jika mereka (jin yang bertabiat syetan) masuk kedalam dirinya maka akan memperindah segala perbuatan buruk hingga ia tertarik dan gemar melakukannya.

💠  Dibuatnya berbagai bentuk ibadah dan perbuatan baik, tidak menarik, kuno dan memberatkan untuk dilakukan. Selalu ada alasan penolakan untuk melakukannya. Panggilan-panggilan kebaikan sulit menembus hatinya. Karena cahaya hidayah telah redup dan bahkan kegelapan meliputi sepanjang waktunya. Na'udzubillahi mindzalik.

💠  Jika terjadi kondisi seperti ini maka dia akan sulit membedakan mana kebahagiaan dan mana saat dia berada dalam kesesatan. Baginya kebahagiaan adalah hal-hal dan perbuatan yang mampu memuaskan dirinya, walau sesaat. Yang membuat hatinya bahagia ketika apa menjadi ambisinya tercapai walaupun hakikatnya menurut ukuran Agama tidak ada nilainya atau bahkan akan berakibat kehinaan bagi dirinya.  ➡Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ukuran kebahagiaan seseorang yang memiliki orientasi dan tujuan kebahagiaan akhirat akan sangat berbeda dengan mereka yang hanya sebatas mengejar kebahagiaan duniawi.

💠  Faktor utama pembeda ini adalah ada tidaknya serta dalam atau dangkalnya "ilmu dan iman" yang ada didalam dirinya.

💠  Ketika seseorang Berilmu dan hatinya penuh dengan Keimanan maka dia akan memiliki bashiroh, cahaya kebaikan yang memancar dari hati, ucapan dan perilakunya sebagai pantulan dari keyakinanan atas kabar gembira yang akan dia dapatkan akibat keimanan dan amal sholihnya itu. 

♦  Dan setiap Muslim hendaknya memiliki kepekaan dan juga faham akan hal ini sehingga dia bisa mengukur dirinya dimanakah dia berada. Apakah pada posisi pribadi yang penuh kelalaian ataukah yang selalu terjaga pada kebaikan dan ketaqwaan kepada Robb-nya.

♦  Sehingga pada gilirannya diapun  akan sadar dan benar-benar bisa membedakan hati yang mati dan yang hidup.  Bahkan juga akan merasakan perbedaan atas kebahagiaan yang sejati dan mana yang bukan.

♦  Tipu daya syetan akan lemah dihadapannya karena dalam dirinya telah diperkaya dengan cahaya kebaikan yang menyebabkan turunya perlindungan dan penjagaan dari Robb-nya.

Waallahu a'lam. 
🍃Oleh : Bunda Endria